
Lukisan Kujang dan Bandung Lautan Pangsi Masuk Rekor Dunia
Wartawan: Asep Awaludin
SENIMAN Tato, Kota Bandung, Ken-Ken Tatto berhasil memecahkan rekor dunia melukis Kujang dalam waktu 9 menit 18 detik pada acara "Bandung Lautan Pangsi" di pelataran pLAZA Balai kota Bandung, Jalan Wastukencana, Sabtu (15/4/2017). Rekor ini sekaligus mencatatkan namanya di Record Holders Republik (RHR).
Sebelumnya, pria yang akrab disapa Kent Tatto juga berhasil memecahkan rekor bersama tiga seniman Bandung pada pemecahan rekor melukis Soekarno dengan cara terbalik di Hotel Hemangini, Jalan Setiabudhi, belum lama ini.
Dalam pemecahan rekor kali ini, Kent Tatto melukis Kujang di dalam kanvas berukuran sepanjang 2 X1,3 meter. Dengan perpaduan beberapa warna, hasil karya Kent berhasil mengundang decak kagum penonton yang hadir.
Presiden Original Rekor Indonesi (ORI), Agung Elvianto mengatakan, pemecahan ini masuk dalam dua kategori yakni kolosal dan unik. Pasalnya, selain pemecahan rekor melukis yang dilakukan Kent Tatto, dalam kesempatan yang sama ada pula pemecahan rekor pertunjukan Silat medley dari 10 paguron silat dan membaca ayat suci Alquran dengan mata tertutup.
Untuk menambah energi saat melukis, iringan musik dari Uwie Prabu lewat lagu Jalele semakin menambah semarak acara itu. Terlebih, diringi pula tarian dari para peserta Bandung Lautan Pangsi yang tercatat sebagai peserta terbanyak dengan iringan 2017 peserta berpakaian pangsi. "Hari ini rekor kembali pecah, dimana kolaborasi Lukis Painting dan Oratorium Musik masuk dalam rekor dunia," ujar Agung.
Agung melanjutkan, pihaknya sangat mengapresiasi kegiatan tersebut, dimana lewat kegiatan ini seni budaya Sunda bisa semakin dikenal dunia."Jelas karena ini dicatat dalam rekor dunia, jadi kebudayaan asli Indonesia semakin dikenal," ujarnya.
Sementara perwakilan Record Holder Republik (RHR), Lia Mutisari berharap, dengan adanya kegiatan ini kebudayaan seni Sunda khususnya baju pangsi semaki mendunia. Sehingga bisa membantu dalam kemajuan seni budaya asli Indonesia. "Atas nama perwakilan Presiden RHR, saya menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap acara ini. Semoga kekhasan baju pangsi sebagai budaya Sunda semakin dikenal," ucapnya.
Ken-Ken sendiri mengaku bangga atas hasil karyanya, meski dirasa kurang sempurna, namun lukisan yang ia persembahkan merupakan karya terbaik yang bisa diberikan sebagai sumbangsih terhadap karya seni dan budaya Sunda.
"Dengan waktu yang hanya diberi 10 menit tentu banyak sekali yang saya rasakan, baik tekanan maupun mental. Tapi Alhamdullah semua berjalan lancar dengan hasil karya yang cukup membanggakan," singkatnya.
Editor: Andri Ridwan Fauzi