Kini kami menerima:

  

      Home | Hubungi Kami | English Version  


    Halaman Utama > Profil > Lihat Profil


Tattoo Menolak Mati

Sumber : TEMPO (Majalah berita mingguan)
Edisi 12-18 April 2010
Gaya Hidup

Sudah  cukup lama tattoo menjadi bagian dari gaya hidup orang kota,
Terutama sejak para selebritas dalam dan luar negeri terkena demam seni tubuh ini. Namun baru kali ini acara tato digelar seperti festival, secara
Berurutan. Di Yogyakarta, Bali, Suarabaya, hingga kota kecil Blitar di Jawa Timur. Ini membuktikan seniman tato juga bercokol dimana-mana.
Kemampuan mereka tinggi, bahkan ada yang diakui di mancanegara.
Rajah tubuh ini sudah jauh dari persepsi negative dan kriminal.
 
Pemuda itu melungkup pasrah. Punggung telanjangnya berubah menjadi kanvas. Jarum dari mesin tato berperan sebagai “kuas” yang merajah permukaan kulit. Dua seniman tato bersama berkarya di permukaan tubuhnya, menyisakan desis mesin tato dan jejak grafis. Di area yang sama, di ruang dengan demarkasi pita merah, terlihat pemandangan serupa. Dua seniman tattoo dan stu orang klien. Mereka ditato di keremangan ruang Klub Liquid, Yogyakarta.
Itulah secuil pemandangan Tattoo Show 2010 di Yogyakarta, pertengahan Februari lalu. Atraksi itu diberi nama Double Trouble. “Kami tampilkan yang berbeda” kata Athong Sapta Rahardja, 31tahun, penanggung jawab Java Tattoo Club Indonesia, penyelenggara acara. “Umumnya satu tubuh ditato satu orang . “ tapi dalam pertunjukan ini satu tubuh ditato dua penato.
Selain atraksi, digelar kontes tato dengan 10 katagori, yaitu oriental, tribal, realis, new school, back piece, sleeve, flora, fauna, dan religi. Ada juga permainan tato lucu (tattoo fun games) seperti penampilan tato wajah, tato nama, tato macan (seiring dengan Tahun Macan), tato hanacaraka, juga tato rock”n roll.
Belum sebulan berselang, pertunjukan tato kembali digelar. Kali ini Bali, tepatnya di Double D Sport Bar, Kuta. Atraksinya tak kalah ekstrem. Sementara sebelumnya dua seniman, kini empat seniman tato merajah satu tubuh. Seiring dengan suara musiok yang mereda, empat lukisan terpahat di punggung dan dua kaki pun kelar. Inilah salah satu acara dalam kontes tato gaya Bali, gaya bebas, dan mewarnai.
Pesta tato Bali ini bersamaan dengan peluncuran Magic Ink, majalah khusus tato pertama di Indonesia. “Untuk mewadahi interaksi antar seniman, konsumen, dan penggemar tato,” kata Bagus Ferry, Pemimpin Redaksi Magic Ink.
Tak berselang lama setelah acara di Bali, kontes tato kembali dihelat di Blitar, Jawa Timur, pertengan April lalu. Blitar Tattoo Fiesta, begitu tajuknya. Selanjutnya kembali ke Bali, bakal ada pesta yang lebih seru. Awal tahun ini, juga ada kontes tato di Mangga Dua, Jakarta.
Tato di Indonesia memang tidak lagi terbatas pada interaksi antara seniman tato dan klien di ruang praktek tato. Sini tubuh ini telah keluar ke area public melalui perayaan ala festival di berbagai kota. Kreativitas pun berkembang, meski masih ada tekanan dan ancaman. Seperti yang terjasi di Bandung. “Sulit menggelar acara tato besar dalam empat tahun terakhir. Ada ancaman akan dibubarkan,” kata Ebi, seniman tato Ebi studio, menyebut organisasi dengan bendera agama yang selalu mengancam bila ada acara tato di Bandung.
Menurut pengamat social dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Hatib Abdul Kadir, tato di Indonesia saat ini mencapai tahap yang makin terbuka. Bergerak dari tren fashion masyarakat perkotaan, meski masih dilakukan di tempat tertutup-ruang praktek artis tato- menjadi perayaan terbuka dan massal. Fenomena ini, menurut dia, merupakan pergeseran dari fase kriminalisasi, ketika orang bertato identik dengan penjahat. “Ini perayaan apolitisasi tato, kontrol dari Negara dan masyarakat melonggar.”
Dari penelusuran Hatib, seperti dituangkan dalam bukunya,tato (2006), peminggiran tato terjadi sejak prakemerdekaan. Ketika itu tato lekat dengan tradisi terdesak. Tatkala Jepang menguasai Bali, penjahat, pembunuh, dan perampok ditandai dengan tato gambar bulan-bintang, rantai, kapak, sampai tanda nomor tahanan.
Prose itu dilanjutkan Orde Baru di awal berkuasa pada 1970-an. Tato dianggap bertentangan dengan agama mayoritas dan kerap diidentikan dengan PKI atau kriminal. Orang bertato terancam ketika korban “petrus” (penembakan misterius) yang rata-rata bertato. Pada masa itu, orang bertato tak bisa jadi pegawai negeri atau tentara.
Era itu sudah lewat. Sekarang pesta tato diselenggarakan di mana-mana. “Batas kriminal dan seni sudah kabur,” kata Hatib. Tato bukan hanya kriminal, tapi jadi media perlawanan, bisa juga menjadi bagian dari budaya pop, dan karya seni. “ Karya seni yang unik, karena bisa dibawa ke mana saja oleh pemiliknya.
Komunitas tato makin menggeliat. Masyarakat Bertattoo, yang disingkat MasBerto, misalnya, selama dua tahun ini berkampanye melalui situs jejaring social, dan sudah mengumpulkan 6.000 anggota. Moto kelompok ini adalah “memasyarakatkan tato, mentatokan Masyarakat”. “Keanggotaannya cair,”kata Rinaldo, 32 tahun, perintis MasBerto.
Istilah MasBerto sebenarnya jauh-jauh hari sudah umum digunakan sebagai sebutan orang bertato. “Tidak ada patennya, kata Rinaldo. Aji, 27 tahun, anggota MasBerto sudah jadi seruan, istilah Masberto sudah jadi seruan. “Yang MasBertocopot kaus. Mereka pun telanjang dada memamerkan tato.”
Di Jakarta, ada klub malam bernama MasBerto di dekat Stasiun Dukuh Atas, tempat berkumpul orang bertato. MasBerto di daerah juga bermunculan. Komunitas tato dengan nama lain pun berjamur seperti Indonesia Subculture, Indonesian Profesional Tattoo Association (IPTA), Bandung Tattoo Foundation, dan Indonesian Tattoo Tribes. “Pesatnya sejak 2000-an “kata Rinaldo.
Yushepthia Soewardy, 38 tahun, seniman tato yang dikenal dengan nama Kent, mengklaim pelanggannya mencapai 40 ribu orang. Latar belakangnya beragam, dari artis sampai pejabat, juga orang kebanyakan. Dulu 90 persen peminat tato adalah lelaki yang ingin tampil jagoan, sekarang lebih banyak perempuan. “Tato jadi bagian dari fashion symbol fashion kan perempuan,”kata pemilik sekaligus seniman Kent Tattoo Studio Bandung itu.
Perkembangan pasar diikuti dengan perkembangan motif tato. Selepas 2000,motif old school seperti gambar rajawali, tengkorak, pisau bersilang, banyak ditinggalkan. Sebagian pemiliknya minta diperbaharui. “Bisa di-cover up atau touch up dengan gaya yang lebih baru,”tutur Ebi. Jika gambarnya rumut, ditutup dengan gambar lain atau dikembangkan menjadi motif lain jika tatonya kecil.
Motif yang berkembang luar biasa ragamnya dalam satu dasawarsa ini. Awalnya yang menjadi tren adalah motif tribal. Lalu disusul dengan new school yang lebih halus dan ringan dengan motif nama, tiga dimensi, oriental, motif mesin (biomachine) dengan kesan kulit sobek-sobek, sampai tato fosfor yang menyala saat gelap. Sedangkan Rusdy Icon dari Black jack Tattoo Studio Jakarta belakangan sering menerima tato bertema religious, seperti gambar salib, wajah Yesus atau Bunda Maria. “Motif berkembang dengan kreasi sesuai permintaan,”kata wakil ketua Indonesia Subculture itu. Namun, menurut I Made Alit Subrata, 47 tahun, pemilik Alit Tatto di Denpasar, tren tato sebenarnya berputar. “Tren bolak-balik saja,”kata Alit, yang sudah menggeluti tato selama 25 tahun.
Selain motif, perkembangan positif dari tato adalah menguatnya kesadaran standar kesehatan. Proses yang memungkinkan adanya persentuhan dengan bagian dalam kulit dan darah itu rawan penularan penyakit seperti hepatitis. “tato itu unsure kesehatannya 60 persen dan seninya 40 persen,”kata Kent.
Tusukan jarum tato, misalnya, hanya sampai dermis kulit, berapa micron dari kulit luar (epidermis) dan atas lapisan akar rambut di kulit, sehingga tidak mengganggu jaringan tubuh. Alat, jarum, dan tinta harus aman, biasanya didatangkan dari Negara yang memberikan pengesahan kesehatan peralatan atato. Ruang tato di Kent Studio, misalnya, dirancang mirip ruang operasi kecil yang bersih. Dokter dan perawat dilibatkan untuk membantu tahap persiapan.
Aspek kesehatan juga melibatkan klien. Yang akan ditato dilarang memakai narkoba atau mengkonsumsi alcohol minimal delapan jam sebelumnya. “Resikonya pendarahan dan warna jelek,”tutur Kent. Itu akibat kerja jantung yang labil dan sirkulasi darah kacau.
Standar kesehatan makin ketat jika seniman tato Indonesia beraksi di negra maju. Dwi “Duff” Anggoro, 30 tahun, misalnya, harus terus memperbaharui sertifikat bebas penularan penyakit dari darah, untuk persiapan mengikuti konvensi tato di luar negeri. Ketua IPTA febri, 40 tahun, menandaskan bahwa pemenuhan standar kesehatan menentukan daya saing seniman atau studio.
Harun Mahbub, Anwar Siswandi (Bandung), Pito Agustin
Rudiana (Yogyakarta), Rofiqi Hasan,
Wayan Agusd (Bali).
 
Melestarikan Rajah Purba
Tattoo tradisional Indonesia masuk jajaran tato tua di dunia.
Ada sejumput kesadaran melestarikan pola dan prosesnya.
Aroma dupa lamat-lamat menyambut di pintu masuk kayu studio tato Durga dikawasan Cikini, Jakarta. Keberadaannya sama sekali tak mencolok, terselip di antara kafe-kafe trendi di sana. Penandanya hanya pintu kayu berhias gambar tokoh pewayangan Dewi Durga setengah badan, di atas kelopak bunga. Anak tangga kayu mengantar ke ruang praktek artis tato Aman Durga, 37 tahun, di lantai dua. Berbagai motif tato tradisional menjadi penghias dinding di sisi kiri dan kanan, dari bawah sampai atas.
Si pemilik juga sangat sesuai dengan aura tempatnya berkarya. Laki-laki kurus dengan kepala plontos di sisi kiri dan kanan, lalu gondrong-hingga menjurai ke bahu-pada bagian tengah kepala, serta berbagai motif tato terpatri hamper di sekujur tubuh. Yang paling khas adalah tato pada wajahnya. Dia punya spesialisasi langka : rajah tubuh dengan motif tradisional (custom tattoo) dan teknik nonmodern. Prioritasnya melayani permintaan tato tradisional yang punya akar di berbagai daerah Indonesia. “Kadang klien yang minta tato motif umum saya toalk,”katanya.
Karya tato yang dihasilkan Durga di pengaruhi elemen-elemen visual serta konsep dan nilai berbagai budaya Nusanatara. Wujudnya adalah tato dengan motif dan ornament dekoratif tradisional, seperti dewa-dewi, karakter dongeng atau legenda, juga berbagai motif tribal dengan garis-garis yang khas.
Durga memang memilih jalur tato motif tradisonal uang nyaris punah, seperti daerah Papua serta kepulauan Lesser Sunda (Nusa Tenggara), mencakup Sumba, Pulau Rote, Flores, dan sekitarnya. Juga dari daerah Sulawesi, Nias, Kalimanatan, dan Sumatra.
Yang paling dia kuasai adalah motif asli dari Kepulauan Mentawai, yang tercatat memiliki jejak paling purba di Indonesia, bahkan dunia. Untuk itu, secara berkala dia berkunjung dan tinggal minimal tiga minggu di pedalaman Siberut, Mentawai. Di sana dia hidup bersama dengan rakyat pedalaman, belajar kepada dukun-dukun adat Mentawai (Sikerei), sekaligus Sipati-sebutan penato Mentawai, “Seperti kerja arkeolog, mengusik yang terpendam.
Tak hanya morif, Durga jiga mempelajari dan menerapkan teknik tato tradisional yang hamper punah. Teknik yang dia terapkan adalah seperti yang dilakukan di Mentawai, yaitu menggunakan dua tongkat kayu pendek yang salah satunya dipasangi jarum. Durga mengetuk-ngetuk kayu pada stu kayu lainnya yang berjarum-teknik ini disebut hand tapping. Pada kayu yang akan menembus kedalam lapisan kulit dermis, lapisan kulit kedua di bawah epidermis. Proses ini dikerjakan bersama seorang asisten, skin stretcher, yang bertugas menarik kulit si klien hingga cukup terbentang. “Yang bisa hand tapping sekarang bisa di hitung dengan jari, “katanya. Prosesnya pun bisa minimal dua kali lebih lama ketimbang dengan alat modern.
Bukan sebentar Durga menekuni profesi penato. Sudah 10 tahuun laki-laki yang senula bekerja sebagai desainer di Amerika Serikat ini menjadi seniman rajah. Tapi baru dua tahun ini dia berfokus pada tato tradisional. Alasannya terdengar mulia. “Tak ada yang ngurus, takut punah, “kata Durga.
Di luar aspek pelestarian, Durga optimis tato tradisional punya pangsa pasar tersendiri. “Banyak kok yang mengerti, “katanya. Segmen tato tradisional itu jelas bukan remaja yang menginginkan tato centil, selebritas, atau yang menginginkan tato seksi, melainkan dari kalangan tertentu, seperti akademisi, pelaku seni, peneliti, praktisi media, atau pekerja film.
Cheni Nugroho, 32 tahun, misalnya, tampak bersemangat saat datang ke studio Durga. “Saya akan pasang tato memanjang dari punggung belakang ke depan, “katanya. Desain yang disepakati adalah selempang ornament batik dengan kombinasi tiga obyek grafis symbol nama ketiga anaknya. Awalnya dia ingin membuat tato Candi Prambanan di tubuhnya, tapi batar karena terlalu besar ukurannya.
Ketertarikan Cheni pada tato motif tradisional tak lepas dari latar belakangnya yang bergelut dengan seni tradisional sejak kecil. “Saya ingin ada symbol tradisi melekat di tubuh, “katanya.
Tak hanya oleh orang local, motif tato tradisional pun diminati orang asing. Hasil lawatan Durga ke Sydney, Australia, selama Sembilan hari pertengahan Maret lalu menunjukan hal itu. Dia mengikuti konvensi tato selama empat hari, dan setiap hari melayani permintaan rajah. “Banyak Bule yang suka motif tradisional, bahkan ada yang minta dengan teknik tradisional , “katanya. Dan yang juga menarik, dengan teknik han tapping honornya lebih besar.
Banyak orang asing memang terpikat oleh eksotisme tato tradisional, hingga rela mencari langsung ke sumbernya. Contohnya Anthony Kiedis, vokalis Red Hot chili Pepers, yang jadi salah satu ikon global selebritas bertato. Demi mencari motif tribal Dayak dan merasakan teknik tradisionalnya, awal 1990 dia berburu ke pedalaman Kalimantan, tempat Rumah Panjang Dayak Iban.
Tato tradisional Indonesia memang lauak dihargai, karena seni dekorasi tubuh di sini punya sejarah panjang.. Pada sebagian suku, tato lekat dengan kehidupan sehari-hari. Budaya tato di Indonesia yang tertua adalah di Mentawai. Ady Rosa , peneliti tato Indonesia dari Universitas Negeri Padang, berpendapat tato Mentawai termasuk yang tertua di dunia.
Dari penelusurannya, tato mulai dikenal sejak orang Mentawai, yang merupakan bangsa Proto Melayu dari daratan Asia, datang ke pantai barat Sumatra, di zaman logam, 1500-500 sebelum masehi. “Bukan hanya tato mesir yang tertua,” katanya. Sejauh ini anggapan tato tertua ada pada sebuah mumi di Mesir.
Di Mentawai, tato-disana disebut titi-punya beberapa fungsi. Tato bisa menjadi tanda pengenal wilayah dan kesukuan, semacam kartu tanda penduduk. Biasanya ini tato utama. Fungsi lain adalah sebagai symbol status social dan profesi. Tato Sikerei berbeda dengan tato pemburu, misalnya. Sikerei diketahui dati tato bintang sibalu-balu di badannya. Ahli berburu dikenal lewat gambar binatang tangkapannya, seperti babi, rusa, kera, burung, atau buaya. Tato mentawai juga berfungsi sebagai symbol keseimbangan alam seperti batu, hewan, dan tumbuhan dirajahkan pada tubuh.
Menurut Ady, sedikitnya ada 160 motif tato di Siberut. Setiap orang Mentawai, baik laki-laki maupun perempuan, bisa punya belasan tato, meski sekarang budaya itu memudar.
Di daerah lain, seperti Dayak Iban dan Dayak Kayan, tato merupakan wujud penghormatan kepada leluhur dan penguasa alam, sekaligus untuk menangkal roh jahat, penyakit, atau roh kematian. Seiring dengan kosmologi Dayak yang membagi alam menjadi atas, tengah, dan bawah, symbol tato pun berbeda. Simbol kosmos atas terlihat pada motif tato burung enggang, bulan dan matahari. Dunia tengah, tempat hidup manusia, disimbolkan dengan pohon kehidupan. Ular naga adalah motif yang merepresentasikan dunia bawah.
Jejak tato tradisional yang makin pudar itulah yang menghantui Durga. Dia pun bertekad melestarikannya. “Ini proyek seumur hidup,”katanya. Settidaknya, penelusuran atas tato tradisi kekayaan budaya. “Minimal ada catatannya.”Tidak Hanya tertulis, tapi juga tergambar di tubuh-tubuh.
Harun Mahbub, Febrianti (padang)

Kembali