Kini kami menerima:

  

      Home | Hubungi Kami | English Version  


    Halaman Utama > Profil > Lihat Profil


Motif Bunga, Motif Cinta, Motif Mistik

Sumber : Kompas, Minggu 6 Juli 2003
TATTOO  atau tato dulu dianggap berasosiasi “Cipinang” alias hiasan tubuh yang biasa digunakan para pelaku tindak kriminal. Kini, tahukah Anda bahwa 70 persen pengunjung studio pembuatan tato adalah perempuan ?
 
PALING tidak, itu pengakuan Kent Tattoo Studio, spesialis tato permanen di Surabaya, yang membuka praktiknya di Yanche Salon di bilangan Kusuma Bangsa, Surabaya. Yusepthia S yang akrab dipanggil Kent-Kent, pemilik studio itu, mengatakan di studio tato miliknya di Bandung, sekitar 70 persen pelanggannya adalah wanita. Umumnya, dalam tiga bulan itu, ada sekitar 40 orang yang telah memesan jasa Kent.
 
“Itu sudah kemajuan. Ketika pertama kali Yanche Salon bekerja sama dengan Kent Tattoo Studio sembilan tahun lalu, tidak ada wanita yang mau tubuhnya ditato,” kata Herman, pemilik Yanche Salon.
 
Siang itu, di salon itu menunggu dua gadis untuk ditato. “Kami ingin sekali punya tato, tapi tolong ya, nama kami jangan disebut. Takutnya nanti orangtua tahu,” ujar salah satu di antara mereka. Mereka mengatakan, agar tak diketahui orangtua, mereka akan membuat tato di bagian tubuh yang ‘terlindungi’, jadi tidak kelihatan ketika berpakaian.
 
Menurut Kent, ia memang banyak melayani para mahasiswa, wanita-wanita terkenal atau sering disebut orang ‘selebriti’, juga sejumlah ibu pejabat. “Mereka meminta agar tidak ada yang tahu soal tato mereka. Soalnya, ada juga yang tatonya di daerah yang sensitif. Ada juga yang hanya minta dibuatkan tato untuk alis dan bibir. Kalau itu, biasanya ibu-ibu pejabat,” kata Kent sambil tersenyum.
 
SALAH satu tempat paling ramai dengan pembuatan tato- baik tato permanen maupun temporer- tak pelak lagi adalah Bali, tepatnya kawasan wisata Kuta. Seorang teman yang akhir pekan lalu berada di Bali pun mengaku disusul teman Amerika-nya yang tengah berlibur di Jakarta, yang menyusulnya ke Bali, gara-gara ingin membikin tato.
 
Di daerah Kuta sampai Seminyak, terdapat sedikitnya 70 studio tato berikut puluhan seniman tato. “Rasanya ser-ser kalau nato cewek. Apalagi kalau dia mintanya di bagian yang rawan,” ujar Wayan “Isu” Sudiantara sembari memperlihatkan beberapa foto tamu wanita yang pernah ditato di studionya.
 
Ada yang di atas payudara dan ada yang-wuih- di beberapa tempat tersembunyi lainnya. “Tetapi, sebagai artis (seniman), kami konsentrasi ke gambar. Kalau melenceng sedikit saja, (tato) tidak bisa dihapus,” lanjutnya.
 
Komang Suardika, seniman tato yang lain, mengungkapkan hal serupa. Seniman tato harus berkonsentrasi agar menghasilkan tato yang memuaskan. “Pekerjaan menjadi berat kalau ada godaan,” ujarnya sambil tertawa. “Apalagi tamunya (wanita) cantik, kulitnya bersih, dan bau tubuhnya harum,” lanjutnya masih dengan tertawa. Dengan bangga ia memperlihatkan sebagian lengan kanannya yang penuh tato. “Ini kenangan dari teman-teman dulu,” ujar seniman tato yang bekerja pada studio tato Mr Dolphin, Kuta, ini.
 
Betis dan punggung, kata mereka, adalah bagian tubuh yang paling sering ditato oleh kaum hawa. Tidak jarang ada yang minta ditato di bagian pusar, pinggang, atau di bagian bawah pinggul. Bahkan, ada yang minta ditato di dekat alat vital.
 
“Mungkin biar kelihatan seksi,” kata seniman tato yang lain lagi, Made Sudarta dari studio Bali Skin Art Tattoo, Kuta. Katanya, tato digemari dan menjadi tren bukan hanya di kalangan wisatawan asing, tetapi juga domestik.
 
ADA beragam motif tato, seperti gambar wajah orang, bunga, binatang, huruf, atau motif “tribal” berupa garis-garis hitam. “Cowok kebanyakan memilih gambar potret, sedangkan cewek bule memilih inisial nama pasangannya yang katanya sebagai pengikat. Cewek lokal umumnya memilih motif bunga, biar romantis,” kata Wayan Sudiantara.
 
Bagi para seniman tato ini, untuk pelanggannya dibutuhkan keteguhan niat guna membuat tato permanen. Istilah Nyoman Sukra dari studio tato Mr Dolphin, tato adalah “kenangan seumur hidup.” Sekali jarum berisi cairan tinta mencocok kulit seseorang, tato bertahan sepanjang hayat pemiliknya. “Kecuali dioperasi laser. Itu pun tidak bisa sekali operasi dan belum tentu tidak berbekas,” tutur Nyoman Sukra saat ditemui di studionya.
 
Selain dibutuhkan keteguhan niat, calon pemilik tato juga harus menahan rasa sakit saat jarum menembus kulit. Tidak hanya sekali, mungkin ratusan kali, atau bahkan ribuan kali. “Cewek biasanya lebih kuat daripada cowok,” ujar Made Sudarta. “Kalau mau tato, (niat) jangan setengah-setengah. Namanya juga ditusuk jarum, pasti ada rasa sakit,” tambahnya.
 
Untuk menghasilkan tato yang menarik, selain kelihaian seniman, juga dibutuhkan peralatan pendukung seperti jarum dan mesin tato, serta yang terpenting adalah tinta pewarna. Sedikitnya, sebuah studio harus memiliki 14 tinta warna dasar, seperti hitam, merah, dan lainnya.
 
Memang ada yang memakai tinta pulpen sebagai tinta tato, tetapi menurut para ahli tato, sebaiknya digunakan tinta yang memang dikhususkan untuk tato. “Sebaiknya memakai tinta asli untuk tato. Tinta asli hasilnya warna lebih ngejreng dan aman di kulit,” kata Nyoman Sukra. Di studionya, Nyoman mengaku menggunakan tinta produk Australia bermerek Tat2 Suply dan krim pelembab pasca-tato, Protat, yang juga merupakan produk Australia.
 
Mengenai perlengkapan tato ini, ahli tato Kent-Kent juga menyebut hal yang sama. Dia menggunakan tinta khusus kulit yang didatangkan dari Jerman. Di dalam tinta itu terdapat kandungan antibiotik sehingga tidak menyebabkan infeksi. Tinta tersebut, katanya, harganya Rp. 20 juta setiap paket, yang terdiri atas 53 warna. Mesinnya pun harus khusus untuk tato agar tidak ada keluhan, misalnya keloid. “Kedalaman tinta masuk ke dalam lapisan epidermis sudah diatur sehingga tidak terjadi keloid,” ujar Kent-Kent.
 
Untuk menghindarkan resiko penularan penyakit, setiap konsumen mendapatkan jarum baru yang dibuka sendiri segelnya dan alat disterilisasi.
 
MARAKNYA tato seperti itu, yang biayanya sekitar Rp.200.000 hingga Rp.250.000 untuk ukuran kecil, taruhlah di bawah 10 cm2, sekarang ini diikuti maraknya bisnis pembikinan tato temporer. Gerai Iwan Tattoo, khusus tato temporer di Tunjungan Plaza, Surabaya, menurut pekerjanya, Rina, setiap hari dikunjungi 10-20 orang yang menginginkan tubuhnya ditato.
 
“Perempuan biasanya menyenangi gambar mawar dan kupu-kupu,” kata Rina yang sudah bekerja di situ selama 1,5 tahun. Biaya untuk membuat tato temporer seperti itu berkisar antara Rp.10.000 hingga Rp.75.000. Tato sementara seperti ini bisa bertahan antara dua minggu sampai satu bulan.
 
Motif-motif yang tergolong soft memang disukai wanita. Hanya saja, di balik pertimbangan-pertimbangan “estetik” itu, ada yang membuat tato dengan alasan spesifik.
 
“Dulu ada yang minta ditato karena usahanya mau bangkrut,” cerita Kent-Kent. “Dia minta tato bergambar naga dengan posisi khusus. Satu bulan kemudian, dia bilang usahanya sudah lancar kembali. Pelanggan lain ada yang minta ditato bergambar logo-logo mistis tertentu untuk ritual,” cerita Kent yang lulusan sekolah desain.
 
Yang jelas, membikin tato permanen memang perlu pertimbangan khusus karena dia akan melekat seumur hidup, menjadi bagian identitas kita. ( IPS/COK ) 

Kembali