Kini kami menerima:

  

      Home | Hubungi Kami | English Version  


    Halaman Utama > Profil > Lihat Profil


Ketagihan Tato, Bisa Merusak Estetika

Sumber : KOMPAS, SURABAYA
Addict tattoo atau ketagihan untuk terus menerus membuat tato baru pada tubuh justru akan membuat tato kehilangan nilai keindahannya.
 
KenKen, master of tattoo yang telah menggeluti tato selama 14 tahun, mengatakan bahwa ketagihan pada tato muncul karena sifat seseorang yang selalu ingin lebih dan lebih lagi. Termasuk dalam kasus tato yang sebenarnya justru harus dihindari agar tetap terlihat indah dan jauh dari kesan negatif.
 
Addict tattoo untuk bisnis memang menguntungkan. Namun, secara estetika kurang bagus. Kecuali diterapkan secara langsung dan ada konsepnya,” ujar KenKen, Selasa (23/9) di Plasa Tunjungan, Surabaya.
 
Untuk itu, agar tetap terlihat indah, harus diperhatikan tentang tata letak tato pada tubuh. Menurut KenKen akan lebih baik jika membuat tato di kaki kanan atau kiri, di tangan kanan atau kiri, di punggung dan di dada. Aturan ini berlaku baik untuk laki-laki maupun perempuan.
 
“Idealnya kalau bisa minimal satu dan maksimal enam. Ukuran tidak menjadi masalah karena tergantung dari selera masing-masing orang,” terang KenKen yang mendirikan studio tato pertamanya di Bandung pada tahun 1990.
 
Masyarakat Surabaya menurut KenKen cukup bagus dalam hal merespons tato. Menurut KenKen, hal ini kemungkinan disebabkan karena sebelumnya ada anggapan bahwa tato adalah sesuatu yang tabu. Sementara itu, kini ketika tato telah mulai dikenal secara luas sebagai sebuah seni, masyarakat Surabaya menjadi lebih apresiasif terhadap tato.
 
Jakarta pun kalah jika dibanding Surabaya. Sekarang kira-kira sudah mencapai 1000 orang berdasar data konsumen yang kami miliki,” ucap KenKen. (Lo4)
 

Ingin Dirikan Asosiasi Tato di Indonesia

 
Bagi sebagian orang, tato barangkali menjadi salah satu hal yang berkonotasi negatif. Namun, bagi KenKen yang telah menggeluti tato selama 14 tahun, tato memiliki nilai seni yang jauh lebih tinggi dibanding lukisan di atas kanvas.
 
“Medianya saja sudah kulit, tidak bisa melukis sembarangan. Berbeda jika melukis di atas kanvas karena bisa menggambar semau kita tanpa harus memperhatikan media yang digunakan,” terang KenKen, Selasa (23/9), di Plasa Tunjungan, Surabaya.
 
Meski pada awalnya menggeluti ‘tato penjara’- istilahnya untuk tato yang jauh dari seni karena dibuat sembarangan, sembilan tahun belakangan KenKen ingin mengubah image  negatif tato dengan memberlakukan aturan-aturan tertentu.
 
“Misalnya dengan pemilihan motif tato. Selain itu juga soal peletakan di bagian tubuh tertentu agar terlihat indah serta tahap-tahap pengerjaan yang 60 persen medical ( secara medis ), 40 persen seni untuk lebih menghargai kulit,” jelas laki-laki berusia 31 tahun yang kini memiliki tiga studio tato di Bandung, Jakarta, dan Surabaya.
 
KenKen yang lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Seni Indonesia (STISI) Bandung ini menganggap tato adalah kebebasan berinspirasi. “Tidak terikat dengan orang lain, tidak ada kemunafikan karena yang penting kualitas,” kata KenKen yang lahir 8 September 1972, serius.
 
Obsesinya adalah agar tato mampu dihargai sebagai sebuah seni yang positif. Untuk itu, KenKen tengah merintis jalan untuk mendirikan asosiasi tato agar tato lebih tersosialisasi dengan baik di Indonesia. ( Lo4 )

Kembali