Kini kami menerima:

  

      Home | Hubungi Kami | English Version  


    Halaman Utama > Profil > Lihat Profil


Ubah Citra Sangar Jadi Seni

Sumber : Surabaya Post
                Minggu, 29 Agustus 2004
 
 
Komunitas
 
Penggemar Tato
Tattoo atau tato asalnya dari bahasa Tahiti “tatu” yang konon artinya tanda. Ealaupun bukti – bukti sejarah tato tak begitu banyak, tapi para ahli mengambilksimpulan, seni tato ini sudah ada sejak 12.000 tahun SM. Tato zaman dulu berbeda dengan seni tato masa kini.
 
Dulu tato semacam ritual bagi suku-suku kuno macam Maori, Inca, Polynesia dan banyak lagi. Menurut sejarah, bangsa Mesir-lah yang jadi biang tumbuh suburnya tato di dubia. Bangsa ini dikenal sebagai bangsa yang kuat dan berekspansi ke bangsa-bangsa lain. Bersamaan dengan itu seni tato pun ikut menyebar luas, seperti kawasan Yunani, Persia, dan Arab.
 
Bagi setiap bangsa tato memiliki arti yang berbeda. Bangsa Yunani menggunakan tato sebagai sarana untuk mengenali sosok intel alias mata-mata serta  pangkat mereka. Namun di kalangan bangsa Romawi, tato merupakan tanda seseorang itu berasal dari golongan budak atau tahanan.
 
Sementara di Inggris, tato merupakan pnanda bagi tahanan yang dikenai hukuman mati. Dan setelah mai kulit orang tersebut diletakkan di gereja sebagai bentuk pengampunan. Seiring perkembangannya, tato di negeri ini dimanfaatkan para saudagar sebagai tanda pengenal budak-budaknya. Sekaligus hiasan lampion yang diperjualbelikan dimasa itu.
 
Bagaimana dengan Asia, khususnya Indonesia? Tato alias Wen Shen mulai merambah negar China sekitar tahun 2000 SM. Wen Shen konon berarti “akupuntur badan”. Seperti bangsa Romawi, bangsa China kuno memanfaatkan tato sebagai penanda pernah dipenjara.
 
Sedang di Indonesia, orang-orang Mentawai di kepulauan Mentawai, suku Dayak di Kalimantan, dan suku Sumba di NTB, telah mengenal tato sejak Zaman dulu. Di kalangan suku Dayak, siapa aja yang berhasil “merebut kepala musuh” akan mendapat tato di tangannya. Begitu juga dengan suku Mentawai, tato tidak dibuat sembarangan. Sebelum pembuatan tato, ada Panen Enegaf alias upacara inisiasi yang di lakukan di Puturkaf Uma (galeri rumah tradisional) dan di pimpin oleh Sikerei (dukun). Setelah upacara selesai, barulah seseorang itu di tato.
 
Seiring bergulirnya waktu, tato bukan lagi sebagai tanda untuk menyakiti seseorang melainkan lebih mengarah ke seni. Lebih-lebih sejak tahun 90-an. Dimana seni tato mulai digemari remaja Indonesia.”Mereka sudah tidak malu dan khawatir menato anggota badannya. Sebelumnya, tatokan identik dengan preman dan mantan napi,”terang Yusepthia.S yang biasa dispa Ken-ken, seniman tato asal Bandung.
 
Menurut Ken, penggemar tato zaman sekarang lebih bervariaif. Bahkan memiliki banyak aliran seperti old skull – biasanya bergambar identitas seseorang semisal Jangkar identik dengan pelaut, nama seseorang sebagai tanda cinta atau patah hati. New skull, gambar graffiti. Oriental, biasanya bergambar naga atau burung hook. Fine line, berupa gambar garis-garis. Dan terbaru biomekanik, berupa gambar robot dan kabel-kabel digital.
 
Masing-masing jenis gaya bertato tersebut, memiliki arti yang berbeda-beda. Umumnya mewakili perasaan seseorang terdalam untuk mengenang suatu peristiwa, sebab tato ini sifatnya permanent, tidak dapat dihapus selamanya.
 
Banyaknya penggemar tato. Membuat mereka sering berkumpul dan membicarakan perkembangannya. Selain itu, mereka yang kerap mangkal di salah satu gerai di Tunjungan Plaza ini identik dengan hal-hal yang sangar seperti premanisme, kekerasan, dan tukang palak.
 
“Kami ingin mengubah citra buruk itu menjadi sebuah seni. Benar-benar seni yang patut untuk dihargai,”kata Ken-ken.
 
Selama ini pra penggemar atato yang tersebar di seluruh Indonesia, saling bertemu satu sama lain – jika mengunjungi suatu daerah. Seperti Kent yang tinggal di Bandung. Jika ia ke Surabaya, penggemar tato di Surabaya akan berupaya menemuinya. Begitu pula saat salah seorang pecinta tato berpameran di Bandung, Jogyakarta, atau kota lain, mereka saling mengunjungi.
 
Untuk mempererat hubungan, para pecinta tato ini bermaksud membuat wadah tersendiri. Rencana itu sudah mereka bicarakan. “Sekarang kami tinggal menunggu momen yang tepat saja, kapan enaknya. Sebab semua teman yang sudah sepakat. Dan untuk keanggotaannya, kami tidak membedakan laki-laki atau perempuan, semua boleh ikut. Yang tidak bertato sekali pun,”terang Ken.
 
Belajar dari ‘Lay Out’ Koran.
 
Wajah Ken sudah tidak asing lagi di mata penggemar tato di Indonesia. Pria satu anak asal Bandung yang juga pemilik salon Kent Tattoo Piercing sudah menggeluti dunia tato sejak 14 tahun silam. Saat itu kegemaran bertatonya sempat mendapat protes kedua orangtuanya, namun dia tetap teguh mempertahankan hobinya itu.
 
“Kalau ditentang keluarga jelas, mana ada orang tua seneng melihat anaknya bertato. Apa lagi saat itu kan masih jarang oaring bertattoo,”ujar pemilik nama lengkap Yusepthia.S. ini.
 
Tapi dia berhasil meyakinkan orangtuanya, orang bertato tidak selalu jahat seperti yang dibayangkan orang.
 
Diam-diam Ken yang bekerja sebagai tukang lay out (piñata letak) Harian Pikiran Rakyat, mempelajari tato setiap kali ada waktu luang. Bukan hanya gambar dan tekniknya saja yang dia pelajari, Ken juga langsung praktik menato secara freelance di tepi jalan.
 
Lambat laun keinginan mempelajari tato lebih dalam kian dirasa mendesak. Setelah 9 tahun berkutat sebagai tukang lay out, Ken memutuskan sepenuhnya terjun di dunia tato. Berbekal kemampuan me-lay out Koran yang mengutamakan keseimbangan, dia tuangkan ilmu tersebut kepada  “pasiennya”.
 
Jebolan sekolah seni Bandung, STSI jurusan Desain Grafis ini selalu berdiskusi dengan pasiennya sebelum jarum-jarum tato itu menusuk kulitnya. Berpegang keseimbangan dan mengubah citra tato yang disebut-sebut sebagai salah satu penyebab penularan AIDS.
 
“Untuk mengubah image tersebut saya terapkan satu jarum tato untuk satu orang dan jarum itu kami berikan sebagai kenang-kenangan, “ujarnya.

Kembali