.Sumber : Harian Jawa Pos
Seni Tattoo yang Kini Lebih Mengutamakan
Medis
Salon tattoo itu, tempatnya tidak menyolok.Pertama masuk,
pengunjung akan menemui potongan rambut yang ditata asri. Beberapa peralatan
lengkap tampak sejajar rapi, plus pegawai berseragam nan ramah.
Beberapa kursi dan kaca berjajar.Begitu pula pegawai
salon yang sebagian besar wanita. Sebagian besar asyik melayani pelanggan yang
potong rambut, atau sekedar Creambath.
Sambil creambath, staf salon menawari untuk tattoo. Ia
kemudian menyodorkan brosur beserta tarifnya. “Banyak lho, wanita yang suka
tattoo. Katanya sih bisa membangkitkan gairah pasangan,”ujar salon tadi ,
sambil memijat kepala.
Usai creambath, seorang staf lainnya menjemput.
Kemudian, diantar ke ruangan lain, yang letaknya lebih menjorok ke dalam.
Ruangan itu ,lebih kecil. Tata letaknya nyaris sama
dengan ruang potong rambut, yang berada
di pintu masuk utama. Bedanya selain pasangan kursi dan kaca , juga
terdapat sederetan botol tinta warna-warni di salah satu sudut dindingnya.
Di salah satu meja, ada sederetan komputer,
ukuran PC, maupun lap top. Di rungan ini
, seorang staf lain menyambut.
“Selamat datang, Mau tattoo permanen atau
temporary?”sapa staf tadi. Kemudian ,dia menanyakan gambar apa yang kita minati. Sambil mengajak
duduk menghadap sebuah komputer,yang
ternyata berisi lengkap desain gambar tattoo.
Menurut Arie Rukmawan, seniman tattoo dari Bandung , yang kebetulan saat itu berada di Surabaya , seluruhnya
keinginan klien harus di tampung lebih dulu. Ingin gambar apa dan letaknya.
Studio hanya memberikan saran. Misalnya, bagaimana
gambar tertentu bila diletakkan di tempat tertentu, jika kliennya menggerakan
bagian tubuhnya yang ditattoo itu, gamabr tadi bisa seolah –olah bergerak.
”Kita juga melihat postur tubuh klien,” ujar alumnus Unpad.
Menurut dia, klien yang datang tidak melulu baru .
Tapi, ada juga hanya ingin memodifikasi
atau mereparasi tattoo yang sudah
ada di tubuhnya.
Yang pasti, gambar tattoo pun mengikuti tren. Tahun
2002 ini, menurut dia, lebih mengarah pada gambar bio mekanik. Dari pakem
tattoo, gambar ini sebenarnya masuk kelompok natural, tetapi lebih
difuturistikkan. Bahkan , bisa dimodifikasi lagi ke pakem lain, seperti three
ball ,oriental (seperti yang sering
dipakai Yakuza),classic atau tradisional, dan fine line.
Untuk yang temporer, harganya lebih murah hanya
puluhan ribu rupiah untuk seluruh gambar. Tetapi, yang permanen , biasanya
dihitung panjangnya dan nilainya bisa Rp.75.000 samapai ratusan ribu per
cm-nya. (ANI)
Wanita Suka Yang Tersembunyi
Di Indonesia , tattoo masih
belum bisa diterima sebagai seni, tepatnya bagian dari seni lukis.
Hal-hal yang berbau kriminal,masih sering
dikait-kaitkan dengan seni lukis pada tubuh ini.
“Pria bertattoo, biasanya dihubungkan dengan image
kejahatan . Pdahal belum tentu. Saya menyukai tattoo sebagai body art,”tutur Herman,dari salon Yance
kawasan THR surabaya
yang membuka butik tattoo.
Tubuh pria ini nyaris seluruhnya dipenuhi tattoo. Punggung, kaki dan
lengan, semuanya penuh dengan tattoo permanen.
Tattoo, bagi Herman, adalah sebuah seni yang kekal. Ada memang mitos-mitosnya.
Itu bergantung pada gambar yang dilukiskan. Misalnya, gambar naga atau dewa,
yang membuat pemakainya menjadi lebih percaya diri.
Seni tattoo ini , bukan dominasi pria. Wanita pun
banyak yang merelakan tubuhnya dilukis. “Di Surabaya masih jarang, tetapi sudah ada. Itu pun ada syaratnya dengan
meminta tempat untuk mentattoo yang
dijamin privacynya,”ujar Olen Siana, seorang pentattoo muda berbakat di Surabaya .
Biasanya gambar yang disukai adalah kupu-kupu, bunga
sampai ikan lumba-lumba. Tubuh yang ditattoopun, biasanya letaknya
“tersembunyi”.Pada bagian tertentu itu,konon, dapat menambah gairah pria jika
melihatnya,dan gemas untuk menyentuhnya.
“Saya sendiri , beberapa kali menattoo artis wanita.
Sebagian besar permanen, tetapi ada pula yang temporary.” Tambah Yusepthia S,
master Kent Tattoo Studio dari Bandung .
Ynag penting, kata dia ,wanita lebih menuntut privacy.
Oleh sebab itu, tempat tattoonya biasanya juga “tersembunyi”.Ada pula yang
membuat perjanjian lebih dulu, dan kemudian prosesnya pentatoan hanya
melibatkan tattoing dan klien
wanita.(ani)
Sumber
: Harian Jawa Pos
Tattoo dan Gaya Hidup
Basuki Rahmad-Radar
Tattoo tidak selamanya identik dengan kriminal. Tatto
adalah cermin gaya
hidup seseorang.
Bagi yang mengerti dan paham dengan tatto,
gambar-gambar permanen yang menempel di kulit bagian tubuh seseorang, bisa
menjadi petunjuk seperti apa gaya
hidup orang itu.
Karena itu, para pecintanya berusaha mengubah image
tatto. Tatto tidak lagi identik dengan wacana kriminalitas. Juga bukan jadi
sumber penyakit, melainkan sebuah gaya
hidup.
Kent Tattoo Studio, misalnya, mencoba mengubah image
itu. Caranya? Studio tatto ini pun mengumpulkan para pecinta tatto di Plasa
Tunjungan, Senin (30/6). (Iis)










